Kupang, Indometro.net- Aktivitas gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menjadi perhatian pada Jumat, 21 Agustus 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 4.258 gempa susulan setelah gempa utama berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026.
Data BMKG hingga Jumat (21/8/2026) pukul 05.00 WIB menunjukkan, dari ribuan gempa susulan tersebut, 118 gempa dirasakan langsung oleh masyarakat. Sebanyak 31 kejadian tercatat memiliki magnitudo di atas M5,0.
Gempa Susulan Masih Terjadi di NTT
BMKG menjelaskan aktivitas gempa susulan pascagempa utama masih tergolong tinggi. Masyarakat di wilayah terdampak diminta tetap waspada, terutama ketika berada di sekitar bangunan yang mengalami kerusakan atau retakan akibat guncangan sebelumnya.
BMKG juga menyampaikan bahwa aktivitas gempa susulan berpotensi terus berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. Karena itu, masyarakat diminta mengikuti perkembangan informasi melalui kanal resmi dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi.
Kondisi Korban dan Pengungsian
Gempa utama yang mengguncang Flores pada 15 Agustus lalu telah menimbulkan dampak serius di sejumlah wilayah NTT. Data BNPB yang diberitakan pada Jumat menunjukkan jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 78 orang, sementara ratusan lainnya mengalami luka-luka dan puluhan ribu warga masih berada di pengungsian.
Penanganan terhadap masyarakat terdampak masih dilakukan oleh pemerintah bersama berbagai unsur terkait. Bantuan kemanusiaan juga terus berdatangan dari sejumlah daerah untuk memenuhi kebutuhan warga yang terdampak bencana.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur, misalnya, kembali mengirimkan 64,4 ton bantuan kemanusiaan untuk masyarakat terdampak gempa NTT melalui Pelabuhan Tanjung Perak.
Masyarakat Diminta Waspada
Masyarakat NTT, khususnya yang berada di wilayah terdampak, diimbau tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap gempa susulan. Warga juga disarankan memeriksa kondisi bangunan sebelum kembali menempatinya, terutama apabila terdapat retakan atau kerusakan struktur.
Informasi mengenai aktivitas gempa dan potensi kebencanaan sebaiknya diperoleh dari sumber resmi seperti BMKG dan BNPB. BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan.
Hingga Jumat, 21 Agustus 2026, aktivitas gempa susulan masih menjadi fokus pemantauan di Nusa Tenggara Timur. Pemerintah dan lembaga terkait terus melakukan penanganan serta pemantauan kondisi masyarakat di wilayah terdampak.
(TimRed)




